Agama bangsa yahudi diperoleh dari Ibrahim as, melalui jalur keturunan anaknya Ishak. Agama Yahudi adalah agama yang dibangsakan kepada bangsa Yahudi yang menjadi penganut kepada agama ini[1].

Menurut alur Al-Kitab asal usul bangsa Yahudi adalah keturunan salah satu cabang ras Semitik kuno yang berbahasa Ibrani (kejadian 10:1, 21-32; 1), (tawarikh 1:17-28, 34; 2:1,2). Hampir 4000 tahun yang lalu, Ibrahim nenek moyang mereka beremigrasi dari kota besar Ur Kasdim yang sangat makmur di Sumeria ke negeri Kana’an. Darinya garis keturunan orang Yahudi dimulai dengan Ishak putranya dan Yakub cucunya, yang namanya diubah menjadi Israel (kejadian 32:27-29)[2]

Nabi Ya’kub menikah dengan dua orang sepupunya (dari sebelah ibu), yaitu Liah dan Rahil, kemudian menikah lagi dengan Zilfah, yaitu jariah Liah dan Bilhah, yaitu jariah Rahil. Dari keempat isterinya, ia mendapatkan 12 putra, yang menjadi pendiri 12 suku, di antaranya ialah[3]:

-          Dari Liah melahirkan: Raubin, Syam’un, Lawi (dari keturunannya lahir Nabi Musa), Yahuza/Yehuda (dari namanya diambil nama ‘Yahudi’), Yassakir, dan Zabulun.

-          Dari Rahil melahirkan: Yusuf dan Benyamin.

-          Dari Zilfah melahirkan: Jad dan Asyir.

-          Dari Bilhah melahirkan Dan dan Naftali.

Di antara garis keturunan tersebut, untuk bangsa Yahudi, Musa as mendapat tempat yang sangat istimewa meskipun Isa juga diutus untuk bangsa Israel. Musa dianggap memenuhi peranan penting sebagai perantara perjanjian Taurat yang Allah berikan kepada Israel, disamping sebagai nabi, hakim, pemimpin dan sejarawan (Keluaran 2:1-3:22)[4].

Agama ini percaya pada keesaan Tuhan secara absolut (monoteis) dan menganggap Allah turun -tangan dalam sejarah manusia, khususnya berkenaan dengan orang Yahudi. Ibadat bangsa Yahudi menyangkut beberapa perayaan tahunan dan berbagai kebiasaan. Meskipun tidak ada kredo atau dogma yang diterima oleh semua orang yahudi tentang keesaan Allah yang dinyatakan dalam Shema, yaitu doa berdasarkan kitab Ulangan 6:4, merupakan bagian terpenting ibadah sinagoge:

“Dengarlah, Hai bangsa Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu Esa “. 

Pada mulanya Nabi Musa as mengajarkan kepada umatnya tentang ada dan Esa-Nya Allah. Tetapi ajaran murni ini akhirnya berubah karena sifat “exclusive nasionalistic” penganutnya. Perubahan tersebut dapat dilihat dari sumber prinsipil Syahadat mereka “Schema Yisrael, Adonai alaheynu Adonai achud” Ulangan: yang didalam pelaksanaannya rasa kebangsaan diatas segalanya sehingga keesaan Allah sendiri menjadi kabur.

Ajarannya disebut “Yudaisme” karena bersifat ke-bangsa-an dan khusus untuk bangsa Yahudi atau Bani Israil, yaitu ajaran yang berasal dari agama yang diturunkan Allah untuk bani Israil dengan perantaraan utusan-Nya yaitu Musa as Kitab sucinya dinamakan Thaurat (wasiat lama) yang aslinya tidak ditemukan lagi sekarang.

2. Dasar-dasar Agama Yahudi

Ajaran Yudaisme tidak menyebut adanya hari kiamat, akhirat, siksaan pada hari akhirat dan pembalasan dalam bentuk pahala. Mereka tidak membicarakan keselamatan pribadi penganut-penganut ajaran mereka. Kepada mereka selalu diindoktrinasikan adanya kejayaan yang abadi di palestina sebagai negara yang dijanjikan Tuhan bagi minoritas Yahudi, satu-satunya umat yang mewarisi bumi Tuhan sebagai umat yang terpilih.

Hingga kini kita dapat melihat mengapa Israel begitu ngotot menguasai Palestina dengan menteror semua bangsa yang bukan Yahudi agar minggat dari tanah Palestina.
peribadahan mereka dilakukan terutama pada hari sabtu mulai terbit fajar sampai terbenam matahari. Segala pekerjaan tangan seperti menyalakan lampu, memadamkan api dan lain-lainnya terlarang pada hari tersebut. Pelanggaran terhadap ketentuan di atas diberikan ancaman keras. Mereka dianjurkan berjamaah dan minimal 10 orang dan dilakukan tiga kali sehari. Sebelum shalat mereka juga berhadas dan mengambil wudhu. Di dalam shalat mereka diharuskan memakai penutup kepala.

Puasa mereka dilakukan pada hari-hari tertentu, seperti “Yom Kippur” selama 24 jam, tanggal 10 bulan Tishri dan setiap hari senin dan kamis. Di dalam kitab Imamat orang Lewi Thaurat [10]: [9], [10]: [11] minuman yang memabukkan terlarang untuk setiap penganut ajaran Yudaisme. Larangan ini tidak pernah diperdulikan, malah minuman keras merupakan suatu keharusan dalam upacara-upacara keagamaan dan mereka meminumnya pada nama Tuhan.

Setiap orang yahudi tidak memiliki kewajiban untuk menyampaikan ajaran mereka kepada orang-orang yang bukan keturunan Yahudi, sehingga ajaran mereka bersifat “non missionary “. Orang Yahudi tidak mengakui Nabi Isa as Mereka menentang sekali ketuhanan Isa atau Yesus yang diajarkan oleh agama Kristen. Juga tidak mengenal kantor agama (hirarki gereja).

Konsep Ketuhanan

Yahudi adalah salah satu agama yang mengklaim dirinya sebagai agama yang Monotheisme, yaitu mengakui hanya satu Tuhan Yang disembah.

Umat Yahudi termasuk kaum musyabbihah, yaitu kaum yang menyerupakan Allah dengan makhluk, sebagaimana tersebut dalam Taurat pada Kitab Kejadian Pasal I[5]:

“Alloh berkata:” Kami telah membuat manusia berdasarkan bentuk Ka- mi, seperti serupaan dari Kami. “

Sehingga apa saja yang bisa terjadi pada manusia, bisa pula dialami oleh Alloh. Bahkan dalam keyakinan orang-orang Yahudi, Alloh bisa menga-lami kelelahan dan kecapaian sehingga harus beristirahat, sebagaimana ter sebut dalam Taurat pada Kitab Kejadian Pasal II[6]:

“Alloh menyelesaikan pekerjaan yang Dia kerjakan pada hari yang ke-7, kemudian Di beristirahat di hari ke-7 dari seluruh pekerjaan yang Dia ker jakan.”

Demikian umat Yahudi meyakini tentang Alloh ta’ala, yaitu dengan keyakinan model kaum musyabbihah. Maha Suci dan Maha Tinggi Alloh dari apa yang mereka sifatkan.

Bahkan tidak hanya meyakini keserupaan Alloh dengan makhluk, mereka pun mensifati Alloh ta’ala dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi Alloh, seperti: kikir, miskin, bisa diperdaya dan lain -lain. Sebagaimana diberitakan oleh Alloh ta’ala:

وقالت اليهود يد الله مغلولة (“Orang-orang Yahudi berkata:” Tangan Alloh terbelenggu (yakni kikir)”, (Qs. Al-Maidah: 64)

:Berkata Ibnu ‘Abbas

لا يعنون بذلك أن يد الله موثقة ولكن يقولون: بخيل أمسك ما عنده, تعالى الله عما يقولون علوا كبيرا

“Mereka tidak memaksudkan dengan kata mereka itu bahwa tangan Alloh terikat, tetapi mereka akan mengatakan:” Kikir, menahan apa yang ada di sisi-Nya. Maha tinggi Alloh dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang besar. ” 

Demikian pula tafsir dari ‘Ikrimah, Qotadah, As-Sudi, Mujahid, Adh-Dhohhak dan lain-lainnya.
Maka Alloh pun membantah ucapan mereka:

غلت أيديهم و لعنوا بما قالوا بل يداه مبسوطتان ينفق كيف يشاء

“Tangan mereka itu sebenarnya yang terbelenggu, dan mereka dilaknat atas apa yang mereka telah katakan. Bahkan kedua tangan-Nya terbentang, Dia menafkahkan sebagaimana yang Dia kehendaki. ” (Qs. Al-Maidah: 64) 

“Berkata Ibnu Jarir Ath-Thobari: “Ayat ini dan ayat setelahnya turun berkenaan dengan sebagian orang Yahudi yang ada pada zaman Nabi

Yaitu mereka mengatakan demikian karena Alloh ta’ala dalam banyak ayat memerintakan manusia untuk berinfaq. Lalu muncullah anggapan jelek orang-orang Yahudi yang terkenal kikir, bahwa Alloh itu miskin sehingga butuh kepada harta manusia[7]. Ini adalah alasan yang paling jelek untuk menolak berinfaq, dan lebih jauh lagi adalah alasan untuk menolak masuk ke dalam agama Islam.

Begitulah orang-orang Yahudi yang tidak hanya menyamakan Alloh dengan makhluk, tetapi juga mensifati Alloh dengan sifat-sifat yang tidak layak, bahkan menghina Alloh ta’ala. Namun pada saat yang sama, mereka mengaku sebagai kekasih Alloh!!!

وقالت اليهود والنصارى نحن أبناء الله وأحباؤه

“Orang-orang Yahudi dan Nashrani berkata:” Kami adalah anak-anak Alloh dam kekasih-kekasih-Nya. “(Qs. Al-Maidah: 18)

Bahkan mereka menyakini bahwa mereka tercipta dari unsur-unsur Alloh sedangkan manusia selain bangsa Yahudi mereka yakini berasal dari tanah setan atau tanah najis. Oleh karena itu mereka menganggap dirinya sebagai bangsa pilihan yang layak memimpin dunia, sedangkan bangsa-bangsa lainnya mereka yakini sebagai ras budak yang harus mengabdi kepada mereka. Bertolak dari pemikiran yang buruk ini lahir-lah doktrin Zionisme dengan protokolatnya guna mewujudkan mimpi gila orang-orang Yahudi ini.

Dalam kondisi demikian, mereka yakin bakal masuk surga.

وقالوا لن يدخل الجنة إلا من كان هودا أو نصارى

” mereka berkata: “Tidak akan pernah bisa masuk surga kecuali orang-orang yang beragama Yahudi pada Nashrani.” (Qs. Al-Baqoroh: 111)

Maka Alloh pun membantah mereka dengan firman-Nya:

تلك أمانيهم قل هاتوا برهانكم إن كنتم صادقين

“Itulah angan-angan kosong mereka, katakan: “Datangkan bukti ucapan kalian kalau memang kalian benar!” (Qs. Al-Baqoroh: 111).

Dalam ayat yang lain Alloh menyatakan:

قل إن كانت لكم الدار الآخرة عند الله خالصة من دون الناس فتمنوا الموت إن كنتم صادقين ولن يتمنوه أبدا بما قدمت أيديهم والله عليم بالظالمين

 “Katakan:” Kapan khusus hanya untuk kalian saja negeri Akhirat yang ada di sisi Alloh, bukan untuk manusia yang lain, maka inginkanlah kematian bila kalian memang orang-orang yang benar! “Mereka sekali -kali tidak akan pernah menginginkan kematian itu selama-lamanya karena kesalahan-kesalahan yang telah mereka perbuat, dan Alloh Maha Mengetahui terhadap orang-orang yang berbuatan zhalim. “(Qs. Al-Baqoroh: 94 – 95)

Dalam perkembangannya, agama Yahudi juga meyakini bahwa Alloh memiliki anak, yaitu Uzair (Ezra)[8]. Uzair adalah seorang sholih yang hafal kitab Taurat, kemudian Alloh mematikannya selama 100 ta-hun. Ketika diaktifkan kembali setelah kematiannya itu, kitab Taurat telah hancur karena serbuan dari Bukhtunshir. Maka Ezra membawa bukti akan keberadaan dirinya dengan menampilkan hafalan Tauratnya, lalu mereka meyakini Uzair sebagai anak Alloh, dan mereka pun menyembahnya. Uzair  datang kepada mereka membawa Taurat dalam bentuk kitab maka ia diyakini sebagai Rosul utusan Alloh, sedangkan Uzair datang membawa Taurat dengan tanpa kitab, yaitu hanya dengan hafalannya, maka Uzair lebih tinggi kedudukannya dari Musa Ketika itulah orang-orang Yahudi mengkultuskannya dengan anggapan, kalau Musa bukan nabi. Ada pun Uzair berlepas diri dari perbuatan syirik kaum Yahudi (Bani Isroil).


[2] (peperonity.com/go/sites/mview/syahran7/12204781)

[3] Achmad Salaby, Agama Yahudi,

[4] Op.cit

[5] Dakwah.net46.net/?p=27

[6] ibid

[7] Rikiseptiawan.blogspot.com/2010/07/konsep-ketuhanan-agama-yahudi.html

[8] ibid