MOBIL PENYOK, SANG SUPIR DITINGGAL KABUR

Bandung, kemarin sore seorang supir angkutan umum jurusan Buahbatu-Kalapa tak sengaja menabrak sebuah sepeda motor mio sporty berwarna hijau yang tengah parkir dengan posisi hampir berada ditengah jalan. (20/10/11)

Insiden tersebut terjadi  di Jalan Dewi Sartika, Bandung. Faktor pemicu kecelakaan karena posisi sepeda motor berada jauh dari lintasan trotoar sehingga menghalangi mobil angkutan umum yang hendak menyelip arus jalan raya yang tengah terjebak kemacetan.

Dalam insiden ini, tidak ada korban yang mengalami luka serius. Hanya ketika sepeda motor tersebut tertabrak, sang pengendara sepeda motor  mengalami luka memar dibagian  lutut disebabkan kondisi motor terbalik.

Akan tetapi, kerugian yang lebih besar dialami oleh sang supir angkutan umum, bagian depan mobilnya penyok diakibatkan  benturan yang sangat keras dengan bumper motor. Tepat pada waktu kejadian, para pengguna jalan dan pedagang setempat serta merta berkerumun di tempat kejadian perkara (TKP) dan mempersoalkan perkara tersebut.

Untungnya, tidak terjadi kericuhan yang berkepanjangan. Namun, nasib baik belum memihak pada sang supir angkot. Pasalnya, selain dirugikan, malangnya lagi sang supir angkot tersebut malah disalahkan dengan dalih kesalahan sang supir merampas hak pengguna sepeda motor yang sedang parkir.

Peranan pemerintah terhadap undang-undang per-parkiran masih dinilai kurang tegas. Nyatanya, masih banyak trotoar –yang seharusnya digunakan oleh pejalan kaki—dijadikan tempat parkir dadakan dan ilegal, sehingga sering berdampak pada kemacetan.

Denda yang dikenakan kepada para pengendara kendaraan pribadi  yang parkir sembarangan tidak memberikan pengaruh/efek jera. Alih-alih saling mengingatkan, justru kesempatan ini dijadikan peluang usaha oleh tukang parkir dadakan untuk mengais rejeki.

Tidak sepantasnya saling meng-kambing hitam-kan antara pihak aparatur pemerintahan dengan pihak masyarakat, melainkan dari kedua belah pihak tersebut mesti timbul kesadaran dan keinginan untuk memulai kembali menciptakan ketertiban dalam penggunaan jalan. Dan hal ini, sepatutnya menajdi PR besar bagi para wakil rakyat.a

  • Erni Heryani

(Mahasiswa Jurusan KPI Smester V)