Adalah komunikasi yang pelakunya berbeda budaya baik sumber maupun penerima. Setiap budaya memiliki karakteristik yang berbeda dengan budaya lainnya. Hal itu dapat dilihat dari segi bahasa, tingkah laku, pola pikir yang sudah terbentuk dari asal di mana tempat kelahiran seseorang.

Perbedaan yang ada terkadang menyebabkan kesalahpahaman bagi seseorang ketika berinteraksi dengan lawan bicara yang berbeda budaya. Kesalahpahaman dalam menginterprestasikan simbol atau pesan yang diterima sehingga respon yang diberikan penerima tentu tidak akan sesuai dengan jawaban yang diharapkan. Untuk menyatukan dan menjembatani masalah tersebut, diperlukan komunikasi antarbudaya.

Globalisasi yang tengah terjadi telah menjadikan peranan komunikasi antarbudaya pada posisi yang signifikan ditengah masyarakat dan komunikasi. Selain itu adanya imigrasi yang tengah marak. Membuat seseorang akan mengenal banyak budaya dan dapat dipastikan akan berkomunikasi dengan seseorang yang berbeda provinsi bahkan negara yang memiliki kebudayaan yang berbeda.

Dimensi komunikasi antarbudaya mencakup berbagai tipe komunikasi seperti: komunikasi intrapersonal, komunikasi antarpersonal, dan komunikasi massa. Adanya perbedaan akan menimbulkan cara komunikasi yang berbeda pula. Seseorang akan menginterpretasikan simbol atau pesan yang diterima sesuai dengan sikap, nilai, kepercayaan, dan persepsi yang telah ditanam pada kebudayaannya. Komunikasi antarbudaya akan semakin menambahnya wawasan seseorang terhadap pengalaman dalam mengetahui bagaimana cara berkomunikasi dengan budaya lain, agar mudah melakukan adaptasi dan tidak mudah terisolasi dari lingkungannya dan lingkungan di luar dirinya.

Kebudayaan bersifat dinamik. Bentuk dinamika tersebut dibuktikan dengan adanya difusi budaya, yaitu penyebaran unsur-unsur dari suatu budaya untuk diterima dan diterapkan pada kelompok budaya lain.

Jika suatu kebudayaan diterima oleh kelompok budaya tertentu, maka akan terjadinya akulturasi. Faktor yang mempengaruhi adanya akulturasi adalah orang yang melakukan difusi budaya harus menganalisa mengenai seluk beluk suatu budaya yang akan dipengaruhi agar dapat menyesuaikan dan mengetahui bagaimana pola pikir, perilaku, bahasa dan simbolik yang digunakan.

Manusia sering dan gemar menciptakan simbol-simbol untuk memudahkan dalam membedakan dan memberi tanda pada suatu hal. Dalam kebudayaan pun, suatu kelompok masyarakat memiliki simbol-simbol khusus yang tidak sama maknanya dengan kelompok budaya lain. Para pelaku komunikasi dituntut untuk dapat membaca apa makna di balik suatu simbol yang diterima dan menambah wawasan akan simbol-simbol budaya lain, agar proses komunikasi berjalan efektif.

Budaya menentukan berbagai hal dalam aspek kehidupan suatu masyarakat, misalnya menentukan cara berinterkasi, menentukan tempat, waktu, dan menentukan terjalinnya hubungan kerjasama atau bisnis. Jika kita tidak mengerti apa yang disimbolkan, tidak hanya akan memberikan respon yang dianggap negatif oleh budaya lain namun juga jalinan kerjasama akan spontan dibatalkan.

Bahasa dapat diekspresikan dalam bentuk yang varian. Dari mulai artifaktual (penampilan), body languange, pakaian, dan kosmetik adalah media komunikasi. Seseorang tidak hanya dapat melihat dan mengetahui apa yang diinginkan dan dirasakan oleh suatu individu dari apa yang dikatakan dari mulutnya melainkan dapat membaca dan menembak dari apa yang ia kenakan oleh dirinya.

Rasa lebih tinggi dan merasa paling dengan budaya yang dianut, memang tidak dapat dipungkiri akan terjadi. Rasa fanatik akan menimbulkan perasaan dalam suatu kelompok tertentu bahwa budayanyalah yang paling baik dan menjadikan sistem-sistem dari budayanya sebagai tolak ukur untuk menilai baik-buruk dan benar-salahnya terhadap kelompok lain dan perkara tertentu. Hal ini dinamai dengan istilah etnosentrisme.

Bila entosentrisme telah terpaku dalam suatu budaya, maka akan muncul stereotip, yaitu mengeneralisir secara negatif terhadap budaya lain. Contoh orang sunda menganggap orang jawa adalah orang pemberani, nekad, emosional dan tidak sopan. Sedangkan orang jawa menilai orang sunda adalah orang yang lembut, lemah, cengeng, dan penakut.

Salah satu contoh kasus yang marak terjadi di negara Indonesia sebagai akibat dari ketidaktahuan terhadap komunikasi antarbudaya, yaitu Tenaga Kerja Wanita (TKW) dan majikannya di Saudi Arabia. Seorang TKW yang berdomisili dari Indonesia dengan kebudayaan khas Indonesia akan sangat berbeda dengan kebudayaan Saudi Arabia. Banyak sekali para TKW yang belum memahami dan mengetahui bagaimana budaya yang diterapkan di sana. Akibatnya akan sulit untuk berinteraksi dan menjadikan kesalahpahaman dalam penginterpretasikan pesan yang diterima dari budaya lain.

Seharusnya mereka terlebih dahulu mengidentifikasikan atau melakukan analisa bagaimana situasi dan kondisi, supaya terjadi proses adapatasi dengan kebudayaan baru yang akan dijumpai nanti.