A.    Waktu

1.      Periode Mekkah

Muhammad diangkat menjadi Nabi pada usia 25 tahun sedangkan menjadi Rasul pada usia 40 tahun. Pertama kali Nabi melakukan dakwah pada ummat itu ditempat di mana beliau diangkat menjadi Nabi, yaitu Mekah, dalam kurun waktu 10 tahun. Pada masa ini beliau mendapatkan tantangan yan g begitu hebat, tiudak tangung-tanggung meski nyawa menjadi taruhannya. Oleh karena itu, langkah yang beliau tempuh adalah dakwah secara sembunyi-sembunyi selama kurang lebih 3 tahun.

2.      Periode Madinah

Berbeda halnya dfengan dengan berdakwah di Mekkah, dakwah di Madinah langsung mendapat sambutan hangat dari penduduk Madinah, sehingga denagan mudah Nabi melakukan dakwah secara terang-terangan selama kurang lebih 13 tahun.

B.     Sasaran Dakwah

1.      Nasab

Sasaran utama dakwah Nabi adalah dari kalangan nasab beliau; yaitu dimuali dari istri, keponakan, paman dan seterusnya. Terkait alas an beliau mengapa memilih dari kalangan nasab terlebih dahulu, karena secara psikologis nabi ingin mendapat dorongan dakwah dari kalangan yang paling terdekat dengna beliau dan ingin menyelamatkan orang terdekat yang beliau sayangi

2.      Para tokoh penunjang Islam

Untuk kelancaran dakwahnya, beliaupun sangat berharap besar ingin mendapat kekuatan dan pengaruh besar, baik dari segi materil maupun personil, seperti Utsman dan Umar ra.

3.      Lintas agama

Kemurahan hati beliau untuk menyalamtkan umat manusia tidak hanya kepada umat muslim saja akan tetapi kepada umat non-muslim pula, seperti ajakan beliau kepada pembantunya yang beragama Yahudi, ketika pembantunya tersebut jatuh sakit; beliau mengajaknya supaya masuk Islam.

C.    Sarana Dakwah

1.      Mesjid

Keberhasilan dakwah Nabi terutama di Madinah lahir diantaranya dari strategi yang beliau gunakan untuk membangun umat yaitu berupa pendirian mesjid. Strategi ini  sengaja dilakukan oleh beliau sejak pertamakali dating ke Madinah. Hal inilah yang mengubah paradigm masyarakat Madinah menjadi tidak terbelakang, sebab kegiatan keagamaan, social, poliyik dan ekonomi dailancarkan dan dibangun.

2.      Majlis Ta’lim

Hal yang tak ketinggalan pentingnya dakwah beliau tidak sekedar melalui momen-momen besar dan dilakukan dimesjid, akan tetapi juga beliau sangat teliti dan apik/tepat menggunakan kesempatan yaitu dalam bentuk majlis ta’lim (ruang kajian ilmiah/tausiyah) dimana dan kapanpun beliau berada.

3.      Rumah penduduk

Metode ini dilakukan terutama ketika beliau belum mendapatkan hati di masyarakat untuk menerima dakwah beliau. Situasi dan kondisi yang sangat genting yang memaksa untuk hal ini dilakukan, karena bagaimanapun juga Islam harus sampai kepada umat. Maka dalam bentuk dan ruang apapun beliau tetap menyampaikan Islam walaupun dirumah-rumah penduduk. Kesempatan seperti ini pernah beliau lakukan seperti waktu beliau masih di Makkah dan para penganut Islam masioh minim.

D.    Sumber Dakwah

1.      Al-Quran dan As-Sunah

Sebagaimana NAbi-nabi terdahulu, Nabi Muhamad pun menyampaikan risalah sesuai apa yang diwahyukan saja. Dalam hal ini wahyu yang sampai ketangan beliau adalah Al-Quran dan As-Sunah.oleh sebab itu, maka keduanyalah yang menjadi sumber untuk disampaikan kembali kepada umat.

2.      Ijtihad

Dalam kategori urusan ibadah yang masih bias dipandang ghair mahdhoh beliau sering menggunakan ijtihad sendiri guna sebagai pemecahan masalah terhadap kasus yang sedang dihadapi dan juga sekaligus memberi contoh kepda para sahabat terhadap tindakan beliau tersebut selain dari pada sikap kepasrahan terhadap masalh (mengabaikan fungsi akal)

E. Materi Dakwah

1.  Aqidah

Ajaran yang beliau ajarkan dalam masalh aqidah yaitu tauhid. Didalamnya termasuk tauhid uluhiyah, ubudiyah, asma wasifat dan mulkiyah. Semuanya telah sempurna didalam  Al-Quran, beliau tinggal menurunkan padanan amal yang terkait dengan musrik; yakni lawan dari aqidah tersebut.

2. Ibadah

Kebanyakan dari ibadah ini adalah dalam bentuk tataran amal praktik. Setelah umat mengakui akan tauhid lantas mereka di ajak untuk mempraktikan apa yang telah mereka yakini tersebut. Kedua ajaran ini (aqidah dan ibadah) sangat sulit untuk diajarkan mengingat akan tradisi umat terdahulu adalah berkeyakinan musyrik

.3. Muamalah

Urusan ini yang mendapat rung besar untuk didalami asalkan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syari’ah. Sebagaimana hal ini didasarkan pada hadits Nabi “antum a’lamu bi umuri dunyakum”