Dunia memang semakin sempit, namun bukan berarti program BKKBN menjadi jalan solutif atas kesesakan untuk bernafas di tanah Pertiwi. Bukan karena peningkatan jumlah kelahiran di Dunia, tetapi kerakusan dan keegoisan manusia itu sendiri. Tanpa memperhatikan lagi nuraninya sebagai makhluk hidup yang berpikir.

Gedung-gedung tempat orang berfoya-foya dan mengajarkan hidup hedonisme kian marak dibangun. Mal ataupun wahana permainan di kota kembang sudah menjadi ikon yang memanjakan dan mengundang daya tarik para wisatawan. Lahan tempat parkir yang tidak memadai tidak sebanding dengan jumlah pengunjung yang hadir. Tidak hanya mengindikatorkan kemacetan tapi imbasnya kepada para pengguna jalan kaki.

Selain para pedagang kaki lima (PKL) yang semena-mena mendirikan tenda atau mangkal di trotoar untuk mengais rejeki, juga para pengendara mobil nakal ikut meramaikan jalan raya dengan memarkirkan kendaraannya secara sembarangan. Belum lagi oknum yang memanfaatkan situasi untuk mematok tarif kepada setiap kendaraan yang hendak berparkir.

Sejatinya, para PKL maupun pengendara sudah diberikan tempatnya masing-masing. Tidak harus memperkosa hak para pengguna jalan kaki, dengan memsabotase jalan yang semestinya hanya untuk pejalan kaki. Fenomena seperti ini sudah cukup penulis rasakan, dan mungkin sudah menjadi rahasia publik. Keresahan masyarakat akan hal ini, hanya bisa dirasakan dan dikeluhkan pada diri mereka sendiri. Kendatipun pemerintah telah mengetahui permasalahan ini, toh mereka tak mau ambil pusing, cukup mengangguk tanpa bertindak apapun.

Tidak sampai pada PKL dan para pengendara mobil, para pengendara sepeda motor dengan seenaknya menggunakan fasilitas pejalan kaki baik di trotoar atau di jembatan penyebrang. Jelas, tindakan mereka sangat mengancam keselamatan para pejalan kaki. Sungguh, hati para pejalan kaki sama sekali tak dilirik dan dipikirkan oleh mereka.

Jika mereka belum tersadarkan, marilah kita sebagai kaum intelektual yang mesti memiliki jiwa solidaritas dan kepekaan sosial yang tinggi untuk tidak menyamakan dirinya dengan mereka yang semena-mena. Jadilah seorang tauladan yang baik agar menjadi contoh perubahan, because we’re agent of change !!!